Kamis, 05 Mei 2011

Walaupun Bajingan, Dimohon untuk Tidak Menyusahkan Anak Anda


Setelah seminggu Ahli Romansa bertugas di luar kota, saatnya kembali menulis di blog ini. Entah mengapa semester ini Ahli Romansa diminta untuk mengajar mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak pada semester ini. Sebelumnya Ahli Romansa muak dan cenderung jaga jarak dengan hal-hal yang berbau anak kecil, namun seiring jalannya waktu, tepaksa Ahli Romansa harus mulai untuk memahami perkembangan anak sebagai tugas sebagai pengajar. Apakah anda tahu betapa peran sosok orang tua akan mengakibatkan segala hal pada perkembangan mental anak? Betul lho, nggak boong

Seorang anak, memiliki tahapan perkembangan yang bertingkat. Mulai dari ngiler dan Pub aja, sampai bisa main PS. Ironisnya, setiap tahapan akan mempengaruhi tahapan berikutnya. Bukannya menakut-nakuti, tapi peran orang tua, baik ayah atau ibu akan membentuk karakternya di kemudian hari. Jadi jika nanti anak anda menginjak remaja dan dia lebih suka dengan sesama jenis jangan salahkan anak anda, salahkan diri anda.

Dalam membesarkan anak, manusia sudah diberikan sebuah “blueprint” . oleh karena itu, hampir semua orang pasti merasa gemas, “iiihh lucunya” pada tiap bayi yang ditemui. Itu salah satu blueprint sikap manusia terhadap bayi. Sayangnya pria tidak memiliki blueprint yang komplit dalam merawat anak. Wanita lebih memiliki blueprint yang komplit bagaimana sebaiknya anaknya diperlakukan. Seorang pria pasti bingung kenapa seorang anak menangis, tapi seorang wanita, bias dengan ajaib membedakan tangisan karena popoknya basah atau karena lapar. *itu semua contoh
Lalu kalo blueprint tidak komplit, apa peran ayah? Secara biologis? Hampir gak ada. Tugas anda sudah selesai sejak di kasur. Namun secara social banyak peran yang harus anda emban. Minimal, tidak membuat sang ibu/pasangan anda gusar sehingga perhatian sang ibu lebih teralokasi untuk mengurusi hubungannya ketimbang anaknya. Anda berhasil membuat istri/pasangan anda tidak gusar, tapi giliran anda yang gelisah karena ”petualangan” anda kok jadi terhambat

Pada dasarnya AhliRomansa tidak menganjurkan anda bertualang lagi kalo punya anak. Tapi kalo naluri petualang anda sudah nggak bias dibendung setidaknya tunggu sampai anak anda masuk SD (setidaknya si anak ada kesibukan kalo orangtuanya berkelahi atau berbuat aneh2) Perlunya menunggu sampai anak masuk SD karena, pertumbuhan mental paling fundamental terjadi dari 0-6tahun. Perkembangan mental anak bisa optimal jika ada dukungan penuh dari ayah dan ibu yang mengawal perkembangan anak. Tapi kalo anda sudah nggak sabar jadi bajingan, tenang saja Ahli Romansa selalu punya solusi.

Pria mana yang tidak mulai gerah dengan perilaku istri yang punya anak? Semua perhatian istri tercurah sama anak. Sudah puasa 40 hari, terus ketika si bayi lahir, istri jadi ogah-ogahan. Ketika panggilan alam sudah diubun-ubun rasanya jadi putus asa. Tenang saja, anda bisa kok cari “sayur lodeh” ketika sayur asem di rumah lagi bener-bener asem. Tapi ada batasan yang jelas tidak boleh anda langgar. Batasannya adalah: tolong jangan sampai ketahuan anda jajan sayur lodeh diluar. Kalo ketahuan setidaknya jangan berkelahi dengan istri dan kedengaran anak. Kalo istri tidak memaafkan anda setidaknya jangan sampai pisah rumah, pisah ranjang aja (asik juga kan anda bisa cari ranjang baru lengap dengan teman barunya)paling penting, walaupun istri benci anda setengah mati, jangan sampai merusak mood dan tidak bermain lagi dengan sang anak.

Walaupun anda bukan suami yang baik, setidaknya jangan jadi ayah yang bajingan. Efek samping dari gagalnya figure ayah (selain dari sisi ekonomis) pada anak itu banyak seperti: gay/lesbian. Tidak bisa disiplin, nggak ada tanggung jawab. Nggak bisa diatur, mau seenaknya aja. Tentu saja masih banyak lagi, merasa tidak diinginkan, sulit berkomitmen (baik romantic/professional). Jadi mintalah ijin sama istri anda, kalau anda dilarang oleh istri/pasangan anda mengurus anak anda, perjuangkanlah!! figure ayah itu penting dalam perkembangan anak. Setelah anak masuk SD baru opsi berpisah bisa digelontorkan.

0 komentar:

Posting Komentar